Sabtu, Januari 28, 2017

Hotel Review - Kaliandra Eco Resort Pasuruan (Jawa Timur)

Kaliandra Eco Resort
Renaissance di kaki Arjuna

Royal Villa saat malam menjelang.


MOBIL YANG MENJEMPUT saya dari Juanda airport mulai meliuk di lereng Prigen, Pasuruan. Sekitar satu setengah jam sebelumnya, mobil melintasi jalan tol yang ramai, namun perlahan lengang saat kerucut Gunung Arjuna muncul dari sisi barat. Saya yang sebelumnya terkantuk-kantuk sekonyong seperti dialiri semangat. Selalu menakjubkan memang setiap kali memandang gunung menjulang, apalagi bentuknya yang merunjung gagah.

Prigen adalah sebuah enklav kecil, tapi ketika mobil menempuh kawasan Taman Dayu, kesejukan merebas dari pemandangan hijau serta pepohonan yang mengisi kiri kanan jalan. Tujuan saya adalah ke Kaliandra Resort, diundang Mas Wibi untuk datang bertandang. “Tempat yang ideal untuk menemukan inspirasi,” kata saya saat Mas Wibi menyongsong kedatangan. Resort ini begitu luas, dari gerbang satpam ke penginapan lumayan berjarak. Warna hijau mendominasi alam sekitar. Wajarlah sebab letaknya tepat di kaki Gunung Arjuna yang subur. Bagian depan resort ditanami tumbuhan pakis, memperkuat kesan lush greenery. Mas Wibi adalah manager Kaliandra Resort yang sudah lama saya kenal. Kunjungan ini terbilang spontan karena saya mengira dia masih bekerja di Jakarta.

Kamar mandinya full granite, serba putih dan ekstrim sumptuous. Ruangnya pun amat besar.


Macbook-ku nangkring di kasur :) :) 

Bantal dan selimutnya high quality. Ademmmmmm.....

Room boy yang ramah dan cekatan

Kamar yang ini cat dindingnya berwarna hijau krem. Paling saya suka, sebenarnya.


Terus terang saya belum pernah mendengar nama Kaliandra Resort. Ketika ditunjukkan websitenya oleh Mas Wibi, saya kaget, sebab resort ini laksana sebuah kompleks istana bangsawan. “Awalnya ini merupakan kediaman pribadi Pak Atmadja Tjiptobiantoro. Lantas berubah visi sebagai yayasan peduli alam dan lingkungan tatkala beliau menyadari merosotnya sumber air serta tingginya pembalakan hutan di sekitar Gunung Salak. Yayasan kemudian dibentuk untuk tujuan konservasi sekaligus membantu memberikan solusi terhadap masalah penduduk sekitarnya,” urai Mas Wibi.

“Kediaman pribadi beliau pun lantas dikonversi menjadi resort. Kalau melihat bangunan utama yang megah, orang mungkin berpikir resort ini hanya menyasar masyarakat kelas atas. Padahal akomodasinya tidak hanya villa, namun ada juga cottage serta bungalow. Kamar-kamar cottage dan bungalow ini sangat cocok untuk group atau rombongan,” tambah pria berkacamata ini lagi.

DAYA TARIK KALIANDRA RESORT, tak bisa dipungkiri, yakni pada villanya, Royal Villa Leduk.  Masuk ke kompleksnya seraya langsung diajak ke Eropa. Taman yang luas tertata menawan, baik bagian depan hingga belakang villa. Saya langsung mengendus ketertarikan sang pemilik resort, pasti dia penggemar arsitektur Italia, khususnya bangunan bergaya Renaissance.

Tiga villa dengan ukuran yang berbeda-beda berdiri saling mengapit. Yang paling besar, sebelah barat adalah kediaman pribadi Pak Atmadja. Villa yang di tengah, berukuran lebih kecil, untuk tamu. Dan villa bagian timur, berlantai dua. Sebagaimana arsitektur Italia Renaissance, villa-villa ini berdinding kuning gading dengan pilar-pilar tinggi. Saat senja merebas dan lampu taman dinyalahkan, warna temboknya memerah.

Villa bagian timur dipotret dari utara

Satu uang tamu dari beberapa ruang tamu yang ada dalam villa bagian timur

Kawanan rusa yang dipelihara di taman belakang villa


Saya hanya mengakses villa bagian timur, masuk ke semua kamarnya. Ini benar-benar serasa bangsawan. Kamar yang paling mewah tampil spesial a la ranjang ratu-raja. Kamar mandi pualam serba putih bersih. Ukurannya besar, kain untuk kelambu serta gordennya persis dipakai di istana-istana Eropa. So luxurious! Kamar yang lain lebih simple, namun tetap mewah dan klasik. Dindingnya berwarna pastel menenangkan.

Villa juga sekaligus memiliki Spa kelas wahid. Mengecek fasilitas serta ruangan Spanya, saya dibuat melongo. Rupanya Spa Kaliandra bekerjasama dengan Ohtaka Enzyme Company Ltd asal Jepang yang terkenal sangat wah. Singkatnya, it’s beyond! Aneh juga menemukan akomodasi se-ekstravaganza ini di kaki gunung. Belum lagi isi tamannya ada air mancur, lalu mereka juga memelihara Rusa serta banyak burung Merak. Villa serta segala propertinya amat laik untuk jadi setting film, video clip, atau pemotretan aristocratic style.

KALIANDRA RESORT juga identik dengan organic farm. Ini tidak bisa dianggap remeh, sebab nama besarnya sudah diakui publik. Sayur-sayuran organik Kaliandra dikerjakan secara professional dan hasilnya dipasok untuk dijual di berbagai swalayan besar di Jawa Timur.

Mas Wibi membawa saya memasuki areal kebun organik seluas 40 ha. “Pengelola kebun ini adalah warga sekitar Kaliandra. Untuk menjaga standar kualitas, setiap warga yang hendak bergabung diberikan pelatihan, mulai dari awal. Para petani sayur yang bekerja sama dengan Kaliandra terdiri dari dua kelompok. Kelompok satu, yakni mereka yang mengelola kebun disini. Kelompok dua, yakni mereka yang mengembangkan kebun organik di lahan mereka sendiri, “ urai Mas Wibi. Setiap petani mengelola bedeng-bedeng sayur dalam tenda plastik. Saya bisa mengenali satu per satu pengelola kebun tersebut berdasarkan foto serta nama petani yang ditempeli di depan tenda.

Salah satu petani muda di antara sayuran yang ditanamnya.
Proses pengeringan sebelum dimasukkan dalam kemasan

Sayuran sudah dikepak dalam kemasan steril. Siap diangkut.


Untuk paska-produksi, Kaliandra punya tempat penyortiran dan pengepakan, langsung di dalam kawasan resort. Saya diajak Mas Wibi juga untuk melihat sendiri bagaimana sayur-sayuran yang telah dipanen, diseleksi kembali dan dikemas sebelum dikirim ke berbagai swalayan maupun pelanggan.

Selama beberapa hari di Kaliandra, saya menikmati segala keistimewaan yang dimiliki oleh resort ini. Menginap dengan pelayanan yang baik, makanan lezat, pemandangan menentramkan.

Oh ya, saya juga diberi fasilitas kendaraan, sehingga bisa mengeksplor tempat-tempat menawan di sekitar Pasuruan seperti Candi-candi peninggalan Majapahit. Singkat kata, Kaliandra menjadikan saya laiknya bangsawan namun tetap berpihak pada bumi. Ideal bukan?

Kemewahan yang akan membuat tetamu enggan beranjak dari kamar tidur

Candi Jawi, situs peninggalan Majapahit, hanya sekitar 40 menit dari Kaliandra Resort





Untuk info lebih lanjut & pemesanan, silahkan kontak
Tel: +62 (0)31 5682912/ +62 (0)855 495 00001
Email: info@kaliandrasejati.org



Teks & Photo Valentino Luis
Diposting @Januari 2017
Follow saya di Instagram / Facebook

Sabtu, Januari 21, 2017

Jalan - Jalan ke Tanjung Puting (Kalimantan Tengah)

Pada Sebuah Klotok
Tanjung Puting

Menelusuri sungai dengan kapal kayu
demi bertemu Orangutan di habitat aslinya.

Seekor Orangutan muda bergelayut di dahan pohon dekat sungai. Orangutan di Tanjung Puting hidup bebas dalam kawasan seluas 3,550 km2.

‘HORNBILL’, kapal kayu yang sudah dua malam berfungsi sebagai rumah kami, mengapung tanpa terayun sama sekali oleh riak legam sungai Sekonyer. Di Kalimantan Tengah, kapal kayu seperti ini dinamai Klotok. 


Saya telah terjaga cukup lama, semenjak semilir angin pagi menyusup kelambu peraduan. Gema suara burung-burung hutan menghela untuk beranjak keluar ke haluan terbuka.  Kabut melingkupi kanal sungai, aura magis melankoli menyaput pepohonan nan rimbun di kiri kanan. Mata saya menebar pandang ke segala arah, tapi pikiran saya seolah lumpuh.

“Viewnya misty benar ya, Val?” Mario Susilo, teman seperjalanan muncul memecah sunyi. Perlahan ia turut duduk di samping  saya. Beberapa menit larut tanpa suara. Suasana seperti ini menguarkan ketenangan yang janggal. 
Sublimatif. 
Barangkali semesta masih bersamadi. 

“Bisakah kau  bayangkan?,” saya menyelah tiba-tiba, “seandainya kamu adalah Galdikas, menjelajahi sungai serta hutan daerah ini di tahun 1970-an. Tanpa klotok senyaman Hornbil, tanpa telefon selular,  tanpa kamera digital. Masa dimana mungkin populasi buaya sama banyaknya dengan Orangutan, pepohonan lebih lebat, sungai pun tak seberapa lebar. Yang kau percayai adalah insting dan orang-orang yang bersedia menemanimu.”  

Klotok berukuran lebih kecil yang tampaknya khusus untuk tamu pasangan. Lengkap dengan kursi santai dan hammock. Kenyamanan yang menyatu dengan alam.

Menyambut hangat mentari pagi di atas Klotok sembari mendengar kisah-kisah tentang satwa
di Tanjung Puting dari Pak Bowo (bertopi)

Pengunjung memperhatikan foto-foto silsilah Orangutan di Information Centre of Camp Leakey. Di rumah ini segala informasi tentang seluk-beluk Orangutan menambah pengetahuan kita.

Lepas dari Tanjung Harapan, Sungai Sekonyer terbagi dua, dan yang kami lalui ini airnya berwarna hitam legam. Bukan karena kotor atau polusi, melainkan karena endapan dedaunan dari pohon-pohon di sekeliling sungai. Rasayanya seperti melalui sungai kematian.

Galdikas, nama yang memunculkan kekaguman tersendiri. Dia seperti nyawa Tanjung Puting, disebut terus menerus oleh pengunjung kawasan konservasi ini, termasuk pendamping perjalanan kami, Pak Bowo. “Sejak saya mengenal beliau di awal tahun 1990, rasa cinta saya pada alam kian bertambah,” terngiang kalimat pria penuh semangat itu. 

Seperti kesaksian Pak Bowo, Galdikas atau lengkapnya Dr. Birute Mary Galdikas merupakan sosok penting di balik pelestarian Orangutan dan habitat hutan hujan tropis di Taman Nasional Tanjung Puting. Dia yang pertama mendokumentasikan berbagai informasi penting tentang kehidupan Orangutan di Tanjung Puting. Catatan- catatanya menjadi bahan penelitian serta referensi. Hidupnya dicurahkan pada misi pelestarian dan pelepasliaran Orangutan Kalimantan hingga kini. Potretnya semasa muda menggendong Orangutan pernah menghiasi sampul depan majalah National Geographic internasional

“Status Taman Nasional yang sekarang disandang, serta perhatian dunia luar terhadap Tanjung Puting adalah salah satu buah komitmen beliau,” tutur Pak Bowo.

Sinar matahari perlahan menghalau kabut. Aroma kopi, nasi goreng, dan buah-buahan terendus dari meja klotok. “Sarapan siap..!,” seruh juru masak dengan mata berbinar.

PERJALANAN KE TANJUNG PUTING dimulai dua hari lalu. Klotok mengangkut kami dari dermaga Kumai pada jam 21.00 malam, setelah berkendaraan selama tiga puluh menit dari pusat kota Pangkalan Bun. Trip ini diinisiatifi oleh Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP) Tanjung Puting, didukung SwissContact Wisata, sebuah lembaga pengembangan destinasi. Rombongan kami memakai tiga klotok. Satu untuk kelompok media, dimana saya bergabung. Dua kelotok lainnya bagi peserta perwakilan bisnis wisata.

Babi hutan dengan janggut yang panjang cukup gampang dijumpai di Tanjung Puting. Mereka kerap muncul di sekitar feeding station untuk mendapatkan remah-remah makanan dari Orangutan.

Saat makan tiba, pengunjung berdatangan ke feeding station untuk melihat Orangutan keluar dari persembunyiannya. Luar biasa menyaksikan hewan ini muncul satu persatu bergelayutan dari berbagai penjuru hutan.

Jalur kayu bagi pengunjung yang tersedia di camp-camp untuk menghubungkan sungai dengan daratan yang dipisahkan oleh hutan mangrove

Usai mendapatkan tempat tidur masing-masing, Pak Bowo mengenalkan kru klotok.  Dan mungkin lantaran telah menanti kami, cerita Pak Bowo tentang Tanjung Puting langsung meledak antusias malam itu juga. Fatris, kawan saya yang juga penulis, seperti bersua narasumber yang tepat. Jadilah sesi tanya jawab antara keduanya berlangsung berlarut-larut. Saya tidak tahu pembicaraan mereka berakhir  jam berapa. Saya hendak meminta Fatris berhenti bertanya. Bukan karena saya butuh tidur, tapi karena obrolan mereka begitu menarik, sedangkan kekuatan konsentrasi saya telah menyusut. Saya tidak bisa merekam kata-kata Pak Bowo.

Di muara sungai Sekonyer klotok berhenti melaju, mesin dimatikan untuk sepenuhnya istirahat. Saya bisa melihat bahwa kiri kanan kami adalah berjejal pohon Nipah (Nypa frutican) yang mirip pohon salak. Esok paginya klotok kelompok media berangkat lebih dahulu, memisahkan diri. Ini memang direncanakan penyelenggara agar kami bisa mendapatkan momen-momen bagus.

ADA BEBERAPA PINTU MASUK Taman Nasional Tanjung Puting yang disebut Camp. Tiap camp punya feeding ground alias tempat memberi makan Orangutan. Jadi, semua Orangutan benar-benar bebas berkeliaran di area Taman Nasional seluas 3,040 km2 ini. Hanya pada jam-jam tertentu petugas akan memanggil mereka makan di feeding ground. Itupun tanpa paksaan, sebab Orangutan dibebaskan bepergian kemanapun mereka mau dan mencari makanan sendiri. Selalu ada kemungkinan untuk bersua Orangutan sepanjang sungai.

Mendekati Camp Tanjung Harapan kami bertemu Orangutan pertama, bergelayut sendirian di batang pohon. “Orangutan tidak hidup dalam kelompok, Mereka hewan semi soliter, tidak seperti kera atau simpanse. Orangutan jantan selalu memisahkan diri dan Orangutan betina biasanya hanya ditemani oleh beberapa anaknya yang masih kecil.  Mereka juga digolongkan hewan arboreal, yakni beraktifitas di atas pohon. Sedangkan gorilla dan simpanse adalah hewan terrestrial, hidup di tanah,” Pak Bowo menerangkan.

Orangutan betina yang ramah di Camp Leakey ini bernama Siswi. Dia sudah terbiasa dengan kerumunan orang.

Doyok, Orangutan jantan yang mendominasi di Camp Pondok Tanguy. Bantalan pipi yang lebar menandakan superioritasnya, meskipun dia kalah di bawah Tom.

Kami tidak mampir di Camp Tanjung Harapan maupun Camp Pondok Tanguy serta Camp Pondok Ambung. Rencananya camp-camp itu akan kami singgahi selepas dari Camp Leakey yang paling ujung. Camp Leakey adalah perhentian utama sebab disinilah pertama kali konservasi dimulai. Selain itu, ada Tom disana. “Tom adalah Orangutan jantan dominan di Tanjung Puting. Dia adalah raja, penguasa segala Orangutan disini,” Pak Bowo kembali bercerita. Kehidupan Orangutan ternyata bagaikan kerajaan. Dimana yang terkuat dan paling berwibawa akan mengusai teritori. “Jika Tom muncul, semua akan menyingkir jauh,” kata Pak Bowo sungguh-sungguh. Saya jarang bersua guide seantusias pria ini.

Tapi kedatangan kami di Camp Leakey rupanya kurang beruntung. Tom tidak muncul di feeding ground. Bahkan setelah kami hujan-hujanan trekking memutari area camp pun ia tak menampakkan diri. Yang kami temui adalah Orangutan ‘awam’. Beberapa diantaranya cukup punya nama, seperti Siswi. “Tapi Siswi dan lainnya hanya rakyat jelatah,” komentar Fatris, bercanda. “Ya, memang bertemu raja itu tidak gampang,” saya menimpal.

SEPERTI RENCANA, sehabis Camp Leakey, klotok membawa kami ke Camp Pondok Ambung. Disini kami bermalam. Tapi tawaran spesialnya yakni Night trekking atau trekking malam hari ke dalam hutan. “Lebih mudah sebenarnya bertemu hewan pada malam hari ketimbang siang. Disini Orangutan sedikit, tapi binatang lain seperti Tarsius, kancil, kijang muncak, dan burung-burung lumayan banyak,” Pak Bowo menguraikan keistimewaan Pondok Ambung.

Kantong Semar (N. ampullaria) berwarna hijau ini tumbuh bergerombol di permukaan tanah dan air berenzim dalam kantungnya bisa diminum. 

Tropidolaemus subannulatus (Bornean Keeled Green Pit Viper) adalah jenis ular  berbisa khas hutan tropis Kalimantan
yang mudah dijumpai di Tanjung Puting

Satu demi satu keasyikan muncul manakala kami bersua burung yang bertengger di dahan pendek. Pak Bowo menunjukkan sejumlah sarang Tarantula dan kami pun asyik mengorek lubang tanah untuk memancing laba-laba raksasa itu keluar. Belum lagi keajaiban jamur putih yang bersinar gemerlapan bagai neon lampu. Di tengah-tengah hutan ada semacam panggung, dan Pak Bowo mengajak kami berhenti disana, berdiri melingkar bergandengan tangan lalu merasakan penyatuan dengan alam.

Kembali ke klotok, pikiran saya dipenuhi gambaran tentang segala yang telah saya lihat di Tanjung Puting. Bermimpi, hingga pagi ini angin menyapu kesadaran, menunjukkan kabut yang melingkupi kanal sungai dan bayangan Galdigas dari tahun 70-an kembali melintas.

Halimun pagi menutupi kanal sungai
Seiring hangat matahari, kabut perlahan menguap namun kesyahduan tetap menyelimuti sungai. Kedamaian laksana Firdaus.

Posting @Januari 2017 - Teks & Photo Valentino Luis
Follow INSTAGRAM / FACEBOOK

LOGISTIK

How To Go
Terbang ke airport Iskandar di Pangkalan Bun. Dua kota besar yang melayani penerbangan langsung yakni Surabaya dan Jakarta. Dari Pangkalan Bun kemudian lanjutkan ke Kumai. Disana jadi dermaga keberangkatan menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Joinan sharing trip lebih baik untuk harga lebih murah. Bisa kontak Pak Yomie (www.orangutandays.com) atau Nina  (www.sistertour.com).

Where To Sleep
Berencana nginap di Pangkalan Bun sebelum atau sesudah ke Tanjung Puting dapat pilih bermacam penginapan. Di kota ini telah hadir sejumlah hotel bintang empat, termasuk Swissbell Hotel, Grand Kecubung, Arsela Hotel. Penginapan kelas budget pun banyak tersedia. Lebih afdol menginap di atas Klotok untuk dapatkan kesan spesial.

Where To Eat
Memakai Klotok tidak perlu pikirkan makanan karena harga sudah termasuk makan. Tapi selama di Pangkalan Bun, banyak rumah makan gampang ditemukan di pinggir jalan raya. Cobalah menu lokal seperti Soto Manggala Mama Dewi, Aloha Resto, atau Semangat 47.

Buah-buahan lokal menemani makan pagi/siang/malam di atas klotok.